Eversile City: Bercerita dalam Cinta

Chapter 1

Senjata Perenggut Hak

Daily Romance

pohon ini sungguhlah teduh, ku duduk sambil membuka laptop usang yang penuh dengan stikeran. rumputnya masih hijau, dedaunan belum banyak yang menjatuhinya, padahal matahari telah muncul dari tempat peraduannya. Kulihat orang-orang sedang siap untuk ikut duduk seperti ku, bercerita dengan asiknya tanpa menghiraukan orang disekelilingnya. Yah, itulah Taman Eversile tampak sangat riuh dan ramai dengan muda-mudi yang berkencan.

masih terlalu pagi, untuk melihat mereka bercinta. tapi apa daya, burung merpati putih disekeliling mereka mendukungnya untuk bercinta. aku tetap melihat saja, bukan karena aku suka. Tapi, aku hanya terheran dengan sikap mereka di tengah kerumunan ini. apakah harus kulakukan seperti itu. Entahlah, biarlah budaya ini tetap menjadi budayaku. 

Suara angin pagi emang beda, tamparan dedaunan yang bernada gesekan dari ranting-ranting pohon yang bersebelahan. Daunnya mulai berguguran, pasangan yang berkencan memanfaatkan momennya dengan makin romantis antar mereka. Adegan daun menutupi wajah dengan sapuan halus dari pasangan, menghempas jauh dedaunan itu. Apa yang salah denganku, aku masih duduk sendiri ajah. 

tidak butuh waktu lama, hingga akhirnya taman ini ramai dengan pasangan. Sepertinya, pasangan keluarga ini makin membuatku tersenyum kecil. Duduk tepat disamping pasangan muda, seolah menampar mereka dengan aksi cinta luar biasa. usianya mungkin sekitar 25 tahun, masih sangat muda terlihat jelas di raut wajah keluarga itu. Anak usia 3 tahun memegang erat tangan sang ibu. sungguh keluarga yang indah, dan sesekali ketawa kecil dengan sang pasangan muda itu. pasangan itu kira-kira 25 tahun juga, karena tampaknya mereka seumuran. 

terlepas dari itu, semua orang semakin asik dengan aktivitas mereka. Jumlah anak-anak juga makin banyak. Tidak ketinggalan, Pasangan kekasih juga makin ramai. Kupu-Kupu dan Merpati kian menampilkan keiindahannya ditengah padatnya taman ini. sungguh membuat taman ini seperti taman peraduan cinta. Pasangan muda berciuman, yang lainnya berpangkuan, ada pula yang sedang memadu asmara dengan gaharnya. inilah kehidupan sebenarnya dari taman ini, kita tidak bisa melarangnya.


petualangan cinta ini memang begitu rumit, nggak ada yang bisa prediksi. Kadang cinta kita bisa bermekaran seperti bunga di taman. Kadang juga malah cinta seperti balon udara yang membuat perasaan makin terombang ambing sampai tak tahu posisi diri. Bahkan cinta bisa saja menjadi pisau yang tajam buat kita manusia. Tapi apa daya cinta adalah candu yang sangat sulit dihilangkan dan disembuhkan.

semakin kesini, para penghuni taman ini mulai menampilkan sisi terindahnya. Suara teriakan penjual es krim terdengar jelas. Orang-orang pada membeli es krim untuk menampilkan sisi romantis mereka. Sepertinya, membeli satu adalah solusi untuk mendapatkan kesempatan kecupan bibir dari wanitanya. Es krim hanya menjadi media agar kesempatan ini kesampaian. Tentu saja, berbeda dengan mereka yang berkeluarga. cukup anak mereka yang merasakan, maka kebahagiaan udah nampak di raut wajah orang tuanya. Dua buah pandangan yang terlihat jelas melihat sebuah kebahagiaan.

Tidak, aku masih terlalu fokus dengan laptop ini. Aku masih sesekali melihat laptop ini. "plup", suara gelembung meletus di jari kelingking saat jari ini masih mengetik di sebuah laptop usang. aku mencarinya, mencari sumber gelembung tersebut. Rupanya itu dari anak-anak yang tadi. masih berusia 3 tahun, belum banyak mengerti tentang kehidupan sosial.

i said "hey, boy" sambil tersenyum. Anaknya masih tersenyum dengan ku. ku coba bermain dengannya, "blaa,," dan bernyanyi "ninang nungnana". sungguh saya sangat berbakat dalam perihal bermain sama anak ini. aku mencoba menghiburnya, sesekali ayahnya menyapaku dan ibunya tersenyum padaku. posisiku masih seperti tadi, dibawah pohon rindang dengan laptop dipangkuan.

kisah cinta itu, perlu susah payah. jangan biarkan dia datang sendiri. Jemputlah, jangan biarkan dia kehilangan arah. Terkadang, kita terlalu fokus untuk mengupayakan apa yang tidak perlu diupayakan. perlu waktu yang banya biar dia kembali kearah yang benar. bisa jadi, kamu sedang berlabuh dan mematikan radarmu. padahal, radarmu sedang dibuthkan oleh orang lain. itula sebabnya, navigasi kita tidak bekerja dengan baik, kadang malah membuat kita harus terpisah jauh bahkan belum tentu kembali.

-see you on the next chapter-

Komentar